TUJUAN WISATA – KERA HITAM

Tujuan Wisata Kera Hitam Di Taman Nasional Bali Barat
Daerah Sebaran Kera Hitam di Taman Nasional Bali Barat
Berdasarkan hasil pengamatan penulis dan pejabat fungsional PEH dilapangan populasi Kera Hitam (Trachypitechus auratus kohlbruggei ) di Taman Nasional Bali Barat menempati 4 (empat) daerah sebaran utama yaitu :

  1. Daerah sebaran semenanjung Prapat Agung
  2. Daerah sebaran Teluk Terima
  3. Daerah sebaran Sumber rejo
  4. Daerah sebaran Gunung Klatakan

Dari keempat daerah sebaran Kera Hitam dijumpai populasi Kera Hitam terbanyak menempati wilayah semenanjung Prapat Agung, disusul berturut- turut Gunung Klatakan, Teluk terima dan Sumber Rejo.

Jumlah Kelompok Kera Hitam di Taman Nasional Bali Barat
Dari 4 (empat) daerah sebaran utama penyebaran Kera Hitam di Taman Nasional Bali Barat diketahui jumlah kelompok Kera Hitam terdiri dari 40 group atau kelompok besar dan dar jumlah 40 group tersebut  bisa dibagi menjadi 9 kawasan sebaran yaitu :

  • Teluk Kelor (Daerah sebaran Semenanjung Prapat Agung) terdiri dari 7 kelompok besar
  • Teluk Brumbun (Daerah sebaran Semenanjung Prapat Agung) terdiri atas 13 kelompok populasi
  • Sawo Murni (Daerah sebaran Semenanjung Prapat Agung) terdiri atas 1 kelompok populasi
  • Lampu erah (Daerah sebaran Semenanjung Prapat Agung) terdiri atas 5 kelompok populasi
  • Prapat Agung (Daerah sebaran Semenanjung Prapat Agung) terdiri atas 4 kelompok populasi
  • Tegal Bunder (Daerah sebaran Semenanjung Prapat Agung) terdiri atas 1 kelompok populasi
  • Sumber Rejo terdiri atas 2 kelompok populasi
  • Teluk Trima terdiri atas 3 kelompok populasi
  • Gunung Klatakan terdiri atas 4 kelompok populasi

Dari keempat daerah sebaran Kera Hitam dijumpai populasi Kera Hitam terbanyak menempati wilayah semenanjung Prapat Agung, disusul berturut- turut Gunung Klatakan, Teluk terima dan Sumber Rejo.

Kondisi Habitat bagi Kera Hitam di Taman Nasional Bali Barat
Keadaan Kondisi Fisik Habita Kera Hitam

Letak
Sebaran utama bagi Kera Hitam yaitu di kawasan semenajung prapat agung yang meliputi wilayah teluk kotal, teluk brumbun, teluk kotal, lampu merah, prapat agung , sawo murni dan tegal bunder serta tiga sebaran wilayah lainnya di sumebr rejo, teluk terima dan gunung klatakan.

Topografi
Berdasarkan peta Kelas Lereng Lapangan Pulau Bali skala 1 : 250.000 kawasan teluk kelor, teluk brumbun, lampu merah, tegal bunder, sawo murni dan klatakan bertofografilandai dengan kelas lereng 2 (8%-15%) sedangkan sumberejo dan teluk terima termasuk pada kelas lereng datar (0% – 8%)

Geologi
Berdasarkan Peta Geologi Pulau Bali skala 1 : 250.000 yang bersumber dari Direktorat Geologi Indonesia tahun 19971, formasi geologi kawasan Teluk Brumbun, Teluk Kelor Lampu merah, Prapat Agung, Sawo Murni termasuk formasi prapat agung batu gampig pasir gampingan , napal. Tegal bunder dan sumberrejo termasuk endapan aluvium sedangkan Gunung Klatakan termasuk dalam batuan gunung api Jembaran: lapak, breksi, tupa dari Gunung Klatakan dan batuan yang tergabung.

Tanah
Berdasarkan Peta Tanah Tinjau Pulau Bali Skala 1 : 250.000 Balai Planologi Kehutanan IV Nusra 1979 Kawasan Teluk Kelor, Teluk Brumbun, Lampu merah, Prapat agung, Sawo murni bertipe tanah brown mediterans soil. Teluk terima dan sumberrejo bertipe tanah hidroporfic alluvial soil, sedangkan klatakan bertipe tanah Brown Lathosol and lithosol.

Iklim
Berdasarkan peta tipe iklimPulau Bali Skla 1 : 250.000 yang bersumber dari Jawatan Meteorolgi dan Geofisika Varhanderling nomor 4/1951 kawasan prapat agung, teluk terima sumberejo dan klatakan bertipe iklim D dengan nilai Q 60 % s.d 100%

Hidrologi
Dikawasan Semenanjung Prapat Agung yang meliputi wilayah Teluk Brumbun, Teluk Kelor Lampu merah, Prapat Agung, Sawo Murni dan sumberejo sama sekali tidak diketemukan adanya aliran air sungai. Sumber air yang ada dikawasan inipun hanya ada di lantai-lantai hutan bakau yang kondisi air genangan tersebutpun sangat dipengaruhi oleh pasang surut air laut.Sesangkan Kawasan Teluk terima dan Gunung Klatakan di daerah ini ditemui aliran air sungai, walaupun kondisinya hanya sebagai sungai curahan artinya sungan tersebut akan sangat tergantung pada musim, apabila musim penghujan turun maka sungai akan penuh dengan air namun apabila musim kemarau tiba aliran sungai tidak akan mengalir air hanya berupa genangan air disela sela mata air dari pohon besar yang ada disekitar sungai.

Pos ini dipublikasikan di Kera, PARIWISATA, Sejarah, Taman Bali Barat, WISATA ALAM, WISATA BUDAYA, WISATA FAUNA dan tag , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s