TUJUAN WISATA – TITI GANTUNG MEDAN

TUJUAN WISATA – TITI GANTUNG MEDAN

KOTA Medan berdasarkan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 9 Tahun 1988 berkaitan dengan Pelestarian Bangunan dan Lingkungan yang bernilai sejarah, Arsitektur Kepurbakalaan Dalam Daerah Kota Medan, tercatat sebanyak 39 unit bangunan. Tetapi apakah “Titi Gantung” yang dibangun menyusul dibukanya perusahaan kereta api Deli Spoorweg Maatschappij (DSM) pada tahun 1885, termasuk dalam 39 unit bangunan yang menjadi situs sejarah dan cagar alam budaya peninggalan “tempo doeloe” dan perlu dilestarikan?

“Titi Gantung” yang lokasinya dekat dengan stasiun besar kereta api Medan, selain memiliki nilai sejarah, arsitekturnya yang khas dan unik. Selayaknya tidak harus hilang ditelan masa dibandingkan dengan banyak bangunan bernilai sejarah lainnya. “Titi Gantung” yang semula diperuntukkan sebagai jalan lintas dan penyeberang jalan kaki, calon penumpang kereta api, mau pun pengunjung dan penonton berbagai kegiatan, antaranya “pasar malam” di Lapangan Merdeka. Semasa penjajahan Belanda, Lapangan Merdeka bernama Esplanade dan pada waktu pendudukan Jepang bernama Fukuraido.

“Pasar Malam” dulunya secara berkala sering diselenggarakan di Lapangan Merdeka, sebelum diaktifkannya Medan Fair di Jalan Jenderal Gatot Subroto semasa Gubernur Sumatera Utara (Gubsu), Marah Halim Harahap. “Pasar Malam” terakhir di Lapangan Merdeka yang bertajuk Pameran Pembangunan Sumatera Utara (Papemsu) diduga pada tahun 1964.

Bagian bawah bangunan “Titi Gantung” memiliki 2 pintu gerbang dan ruas jalan yang menghubungkan Jalan Veteran (dulunya Jalan Bali) dengan Jalan Pulau Pinang (sekarang). Hingga tahun 1950an ruas jalan melalui pintu gerbang tersebut, bila malam ketika kereta api, baik lokomotif dan gerbong tidak dioperasikan setelah “langsir” dan diparkirkan, bisa dilalui kendaraan dan pejalan kaki.

BANGUNAN “Titi Gantung” dekat stasiun besar kereta api, selain bertembok kokoh, unik dan khas dengan cirri-ciri dilihat dari arah Jalan Pulau Pinang memiliki kelebaran 40 – 50 meter dengan tinggi bangunan antara 7 – 8 meter dari permukaan jalan. Selain bagian bawahnya berpintu gerbang (tertutup), terdapat jalan berjenjang (tangga) di sebelah kanan dan jalan mendaki berlapis aspal dari 2 arah.

Dari arah Jalan Veteran juga memiliki pintu gerbang dan kini berfungsi sebagai gudang, di sebelahnya dimanfaatkan untuk kedai kopi.Bagian sebelah kanan terdapat jalan berjenjang (tangga) dan di sebelah kiri satu ruas jalan mendaki. Kelebaran “Titi Gantung” terbuat dari besi kokoh dan bagian lantainya berlapis aspal melewati di atas jalur rel kereta api yang berada di bawahnya, terentang panjang 40 – 50 meter.

“Titi Gantung” yang unik dan kokoh ini, tentunya berbeda dengan jembatan di atas jalur rel kereta api yang dilalui kendaraan bermotor di dekat stasiun kereta api Gubeng, Surabaya. Juga berbeda dengan jembatan di dekat Stasiun kereta api Bandung mau pun jembatan jalan tol, Cililitan – Tanjung Priok, Jakarta.

DELI Spoorweg Maatschappij (DSM) merupakan perusahaan kereta api pertama di luar Jawa semasa kolonial Belanda. Berdasar catatan sejarah, kereta api pertama kalinya di Pulau Jawa, bukan semata-mata untuk angkutan penumpang, titik beratnya untuk angkutan barang, utamanya hasil perkebunan yang sebelumnya diangkut ke kawasan pantai dengan memanfaatkan aliran sungai.

Akibat desakan para pengelola perkebunan, akhirnya pemerintahan Hindia Belanda menyetujui pembangunan rel, ditandai dengan pencangkolan pertama pembangunannya dilakukan Gubernur Jenderal, Baron Solet van Beele, 17 Juni 1864. Rel komersial pertama dibuka sepanjang 26 kilometer menghubungkan Kemijen (Semarang) ke Tanggung, 10 Agustus 1867. Semua jalur kereta api, dibangun menghubungkan daerah pelabuhan dengan sentra-sentra perkebunan.Berdasarkan sejarahnya, jajahan Hindia Belanda merupakan sentra hasil bumi dan menguntungkan Belanda. Utamanya sejak diberlakukannya tanaman paksa (cultuur stelsel) yang menjadikan negeri “bunga tulip”, kaya berlimpah.

Bila jalur awal yang menghubungkan pelabuhan Semarang dengan daerah Vorstenlanden, merupakan sentra penghasil tembakau di Jawa Tengah. Disusul kemudian jalur-jakur kereta api menghubungkan Jakarta – Ciwidey yang merupakan sentra perkebunan teh atau Surabaya – Jember – Besuki di Jawa Timur mau pun Medan – Pematang SDiantar untuk melayani sentra perkebunan tembakau dan kelapa sawit.

Untuk melayani angkutan bahan tambang batubara di Sulawesi pernah dibangun jaringan rel kereta api. Juga di Kalimantan yang akhirnya dibongkar. Di Sulawesi kini hanya tinggal sisa-sisanya yang masih terlihat. Jaringan kereta api pertama di Sumatera Utara, dimulai tahun 1883 menghubungkan Medan – Labuhan sepanjang 17 kilometer.

KERETA Api pertama di dunia, bermula di Inggris, ketika Richard Tervitchick memperagakan kereta api penumpang yang ditarik lokomotif uap pada suatu jalur lingkar Euston Square, London pada tahun 1809. Perjalanan kereta api komersial pertama dilakukan, 15 September 1830, menghubungkan antara Liverpool dengan Manchester yang ditarik lokomotif uao perkasa buatan George Stephenson.

Pada tahun yang sama, Amerika Serikat memiliki jalur kereta api komersial, menghubungkan Baltimore dengan Ohio. Disusul kemudian dengan pembangunan jalur kereta api yang membelah benua tersebut.

Penemuan kereta api sebagai sarana angkutan segera menyebar ke seluruh penjuru dunia. Inggris sebagai negara kolonialis kemudian membangun jalur kereta api di India, menghubungkan Bori Bondar ke Thana sepanjang 34 kilometer pada tahun 1851.

Berkaca dengan keberhasilan Inggris di negeri jajahannya India dan mendatangkan keuntungan. Belanda menirunya di jajahannya Hindia Belanda, terutama Jawa –Madura. Selain Sumatera/Aceh, Belanda juga membangun jalur kereta api di Sumatera Selatan/Lampung. Jalur kereta api yang tengah dalam pembangunannya di Provinsi Riau sekarang, tetapi “terhalang” dengan meletusnya Perang Dunia, sehingga, rel, lokomotif dan gerbongnya diangkut Jepang dan dipindahkan ke Birma (Myanmar) dan Thailand!.

“TITI GANTUNG” sebagai salah satu sisa situs sejarah dan cagar budaya alam di Medan diduga peresmian dan penggunaannya bersamaan dengan kantor pusat perusahaan kereta api DSM yang kini menjadi PT Kereta Api Indonesia (KAI) di persimpangan Jalan Prof H.M Yamin, SH – Jalan Irian Barat sekarang pada tahu 1920.

Pada tahun yang sama, dibuka pertama kalinya kawasan Polonia sebagai per-mukiman orang-orang Eropa. Tahun 1924, Polonia sebagai lapangan terbang didarati pertama kalinya pesawat dari Negeri Belanda. “Titi Gantung” diyakini pembangunan dan peresmiannya juga mendahului Pelabuhan Belawan pada tahun 1928, disusul peresmian Pusat (Central) Pasar dari 4 bangunan loods (layaknya bangsal raksasa) pada tahun 1930 – kemudian terjadi ke-bakaran menimpa Loods 3 – 4 pada tahun 1971 dan Loods 1 – 2 pada tahun 1976.

Kini, bagaimana “Titi Gantung”, apakah masuk dalam 39 unit bangunan Perda No.9 tahun 1988 berkaitan dengan Pelestarian Bangunan dan Lingkungan yang bernilai Sejarah Arsitektur Kepurbakalaan Dalam Daerah Kota Medan. Ataukah, “Titi Gantung” akan turut dimusnahkan, sama dengan bangunan-bangunan lain di Kota Medan yang telah hilang ditelan masa.

Pos ini dipublikasikan di Bangunan, PARIWISATA, Sejarah, WISATA ALAM, WISATA BUDAYA dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s